Pendakian Gunung Slamet : Perjalanan Adalah Sebuah Pelajaran

Pendakian ke gunung Slamet Jawa Tengah
2 Shares

Rencana pendakian gunung Slamet ini bermula dari seorang teman yang berniat meminjam tenda kapasitas 5 orang milik saya.

Bang, 15 – 18 Februari ke Slamet nih, gue pinjem tenda dipake ngga ?

Begitu kira – kira saat Muklis bertanya pada saya.

Bukannya fokus ke tenda yang ditanyakan, alih – alih saya malah jadi tertarik untuk ikut serta dalam pendakian itu.

Pada akhirnya, saya sepakat untuk bergabung ke dalam rombongan yang ( rencananya ) berjumlah 9 – 12 Orang tersebut.

Saya juga mengajak Andri, seorang yang beberapa kali membersamai saya saat melakukan pendakian, termasuk saat ke Merbabu beberapa waktu lalu.

Awalnya, saya akan menghampiri Andri di Solo pada akhir bulan Februari, untuk melakukan pendakian ke gunung Lawu.

Namun, pada akhirnya kita bergeser destinasi.

Semua hal dan kebutuhan pendakian diatur oleh tim rombongan tersebut. Saya berpesan kepada mereka akan membawa peralatan pendakian sendiri.

Sehingga mereka tidak perlu repot mengatur.

Keberangkatan

Tiba lah pada hari keberangkatan, dengan total rombongan yang tersisa hanya 5 orang termasuk saya dan Andri ๐Ÿ˜€

Saya juga ngga mengerti kenapa kok berkurang banyak.

Ada untungnya sih, dengan begitu pendakian akan lebih nyaman dan efisien. Saya kurang nyaman dengan pendakian rombongan di atas 10 Orang.

Biasanya banyak waktu yang molor.

Kami menggunakan mobil ‘trayek’ yang memang biasa mengangkut para pendaki ke basecamp gunung – gunung di Jawa Tengah.

Janji penjemputan jam 10 malam di kampus, dan mobil baru datang jam 1 pagi.

Memang sih, saat itu berbarengan dengan momenย long weekend,ย jadi kondisi jalanan dimana – mana macet parah.

Namun tetap saja saya jengkel.

Sampai basecamp pendakian sudah pasti siang hari, dan rencana pendakian yang awalnya pagi hari akan berubah total.

Ditambah lagi, ternyata mobil yang kami naiki isinya bukan pendaki, melainkan orang – orang yang akan mudik ke daerah Jawa tengah.

Hanya kami pendaki di dalamnya.

Gue dikerjain . . .

Baiklah, diterima saja. Akhirnya dimulai perjalanan yang panjang itu.

Benar saja, sebelum sampai basecamp, mobil tersebut menurunkan satu per satu penumpangnya ke depan rumah mereka.

Benar sih, sejalur dengan arah kami, tapi tetap saja lama, karena terkadang mobil harus keluar – masuk gang dulu.

Sampai basecamp tepat jam 12 siang. Bagus.

Hari Pertama : Pendakian gunung Slamet

Tiba di basecamp gunung Slamet via jalur Bambangan Purbalingga, dan awan sudah mulai tak sabar menurunkan hujannya.

Saya dan tim bergegas untuk bersiap – siap. Registrasi pendakian, mandi, makan siang, dan cek ulang perlengkapan.

Dan Andri tidak jadi ikut.

Perjalanan panjang dari tempat kerjanya di Solo membuatnya kelelahan, 6 jam diguyur hujan semalaman dan macet yang parah.

Akhirnya saya menyarankan agar dia tidak perlu ikut, mengingat jalur gunung Slamet yang panjang, dan dia masih harus kembali ke Solo lagi.

Jadilah kita berempat. Saya, Muklis, Pandu, dan Putra.

Pendakian dimulai tanggal 16 Februari 2018 jam 2 siang dengan membawa beberapa bibit pohon yang memang disediakan di basecamp.

Jalur awal didominasi bebatuan dan cor yang lumayan menguji lutut.

Pendakian gunung Slamet via Bambangan terdiri dari 9 pos yang harus di lalui sebelum sampai di puncak tertinggi nya.

Dan jalur dari basecamp ke Pos 1 dan Pos 2 adalah jalur terpanjang. Lokasi camp biasanya di Pos 5 atau 7 agar tidak terlalu jauh ke puncak.

Sumber air berada di Pos 3 dan 5.

Belum lama kami berjalan, Putra muntah. Tampaknya masuk angin.

Perjalanan awal sangat lambat, karena kami semua masih menyesuaikan nafas dan tubuh dengan tanjakan jalur pendakian.

Sampai di Pos 1 hampir mendekati jam 4 sore. Putra tampak semakin lelah dan jalannya melambat.

Akhirnya saya putuskan berjalan lebih dulu dengan Pandu untuk memasang tenda di Pos 3. Sedangkan Putra menyusul ditemani Muklis.

Estimasi saya tiba di Pos 3 sekitar jam 7 malam, dan Putra yang ditemani Muklis menyusul 1 jam setelahnya. Paling lambat.

Perlu diketahui, jumlah pendaki hari itu sangat banyak. Pada saat registrasi saja sudah mencapai angka 500 Orang.

Dan pastinya terus bertambah, karena di gunung Slamet tidak mengenal sistem pembatasan kuota pendakian per hari.

Jadi kami berjalan lebih dulu agar mendapat spot tenda yang nyaman.

Kami tiba di Pos 2 sekitar jam 5 kurang, dan hujan mengguyur di sela – sela hutan basah Slamet yang cukup rapat tersebut.

Istirahat di Pos 2 kurang lebih 30 menit sambil menunggu Putra dan Muklis, yang ternyata belum juga datang.

Akhirnya saya dan Pandu putuskan melanjutkan perjalanan.

Di tengah jalur antara Pos 2 dan 3 saya mendapati sebuah tanah datar yang cukup nyaman dan masih kosong. Muat 2 tenda.

Saat itu sudah jam setengah 7 malam, dan hujan deras.

Mungkin kami bisa sampai di Pos 3 sebelum jam 8, tapi bagaimana dengan Putra dan Muklis yang masih jauh di belakang ?

Akhirnya saya putuskan mendirikan tenda di tempat tersebut. Dengan pertimbangan sampai di Pos 3 semakin malam, dan hujan yang terus mengguyur.

Malam itu ditutup dengan istirahat ditemani hujan.

Hari Kedua : Melanjutkan Pendakian

Beres sarapan, sekitar jam 9 pagi kami melanjutkan pendakian ke atas. Targetnya adalah camp di Pos 7 agar tidak terlalu jauh ke puncak.

Sama seperti kemarin, hari ini pun saya berjalan lebih dulu karena membawa tenda.

Sebagian besar shelter gunung Slamet yang memang tidak terlalu luas dan konturnya yang tidak rata, membuat saya tidak mau ambil resiko.

Lebih baik lelah di awal dan mendapat tempat istirahat yang nyaman.

Hari itu cukup cerah meskipun berawan.

Kami semua sangat terbantu dengan rimbunnya pepohonan di jalur pendakian, yang menahan sinar matahari masuk.

Di jalur antara Pos 4 dan 5 saya berhenti sebentar, untuk beristirahat sambil menunggu teman – teman yang lain.

Tapi ternyata saya ketiduran hampir 30 menit ๐Ÿ˜€

Nikmat sekali rasanya, tidur di bawah pohon rindang, dengan suasana yang tenang dan sepi. Itulah mengapa saya suka mendaki gunung.

Banyak hal – hal yang hanya saya dapatkan di atas sini, tidak di tempat lain.

Mereka belum juga terlihat, jadi saya melanjutkan perjalanan, dan tiba di Pos 5 sekitar jam 12 siang. Kondisi di sana sudah padat saat itu.

Saya menemukan ada celah datar yang nyaman, cukup untuk 2 tenda.

Saya menimbang jika saya harus ke Pos 7 dan belum tentu mendapat tempat camp, dan juga cuaca siang itu mulai mendung.

Akhirnya saya putuskan mendirikan tenda di Pos 5.

Toh mayoritas pendaki memang mendirikan tenda di Pos 5, selain karena jarak ke puncak yang ideal, di sana juga terdapat sumber air.

Selesai mendirikan tenda, dan bersantai menikmati indomie rebus hangat, anggota tim yang lain menyusul datang sekitar jam 1 siang.

Siang hari kedua dihabiskan dengan banyak bersantai dan istirahat, untuk menyimpan tenaga ke puncak dan perjalanan turun ke basecamp esok.

Hari Ketiga : Menggapai puncak Surono

Pagi itu saya bangun, diawali dengan teriakan minta tolong seseorang, yang ternyata sedang menolong temannya yangย hypothermia.

Kebetulan korban di bawa ke tenda tetangga sebelah tenda kami.

Jadi kami juga turut membantu sebisanya, seperti memasak air panas, memberikan stok oksigen dan emergency blanket yang kebetulan kami bawa.

Alhamdulillah, kondisinya mulai stabil dan membaik.

Saat itu sekitar jam 3 pagi, kami berempat bersiap – siap untuk pendakian ke Pos 6 – 9 dan akhirnya menggapai puncak tertinggi kedua di tanah Jawa.

Meskipun masih ada 4 pos lagi yang harus dilalui, namun jaraknya tidak terlalu jauh, hanya hitungan belasan menit saja antar pos nya.

Malam itu langit cerah, dengan bintang yang cukup banyak terlihat.

Kami berempat berjalan beriringan dengan pendaki – pendaki lain yang juga memiliki tujuan yang sama, yakni puncak Surono Slamet.

Namun, di tengah perjalanan, ada insiden kecil, yang mengharuskan saya dan Muklis untuk kembali turun ke tenda.

Sedangkan Putra dan Pandu masih lanjut berjalan.

Sangat disayangkan sebenarnya saat itu. Namun, ya sudahlah . . .

Sekitar jam 7 pagi Pandu dan Putra ternyata sudah sampai di tenda. Padahal biasanya pendaki baru akan turun dari atas di jam yang sama.

Ternyata kondisi di puncak sangat ramai, dan tidak memungkinkan untuk mendapat spot foto yang bagus.

Akhirnya mereka berdua memutuskan turun lebih cepat.

Kami semua sarapan dan packing perlengkapan, untuk persiapan turun.

Perjalanan turun dimulai jam 9 pagi, dan berjalan cukup lancar. Kami beristirahat tidak terlalu lama di setiap pos nya.

Tiba kembali di basecamp sekitar jam 2 siang. Sangat cepat, jika dibandingkan dengan perjuangan naik 2 hari sebelumnya ๐Ÿ˜€

Kembali ke Bekasi

Di basecamp, kami mandi dan berbenah.

Saya mengusulkan agar pulang menggunakan bus Sinar Jaya dari terminal Bobotsari saja, yang ternyata tidak terlalu jauh dari basecamp.

Kami turun dari basecamp sekitar jam 3 sore menggunakan mobil charter bareng dengan beberapa pendaki lain.

Tiba di terminal jam 4 kurang dan langsung memesan tiket bus.

Perjalanan pulang cukup lancar dan diguyur hujan lebat. Hanya di beberapa titik saja terjadi kemacetan. Sisanya lengang.

Dan akhirnya kami masuk Bekasi jam 3 pagi. Sangat cepat.

Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran pada pendakian kali ini. Terutama mengenai manajemen pendakian secara keseluruhan.

Gunung Slamet adalah salah satu gunung dengan trek yang panjang.

Harusnya manajemen yang dilakukan bisa lebih matang. Seperti persiapan transportasi, logistik, hingga persiapan fisik masing – masing.

Pendakian berkelompok adalah tentang kerja sama.

Jika ada yang mengalami kesulitan, suka atau tidak suka, anggota kelompok yang lain pasti dan harus membantu.

Oleh karenanya penting bagi kita semua, untuk selalu menjaga kondisi diri sendiri.

Prinsip saya, sebelum berpikir untuk menolong orang lain, minimal saya harus mampu menolong dan mengurus diri sendiri selama pendakian.

Sampai bertemu di perjalanan berikutnya ๐Ÿ™‚

2 Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *